Pendidikan Kesetaraan dan Jalan Kembali bagi yang Sempat Berhenti Sekolah

Tidak semua orang menyelesaikan pendidikan dalam urutan yang seragam. Ada yang berhenti karena biaya, karena harus bekerja, karena menikah muda, atau karena pindah tempat tinggal mengikuti pekerjaan orang tua. slot gacor Untuk kelompok inilah pendidikan kesetaraan lewat program Paket A, B, dan C tersedia. Program ini jarang dibicarakan dalam pembahasan pendidikan, padahal jumlah pesertanya tidak sedikit dan perannya cukup menentukan bagi mereka yang menjalaninya.

Bentuk dan Cara Kerjanya

Pendidikan kesetaraan diselenggarakan di pusat kegiatan belajar masyarakat, sanggar kegiatan belajar, atau lembaga lain yang ditunjuk. Paket A setara sekolah dasar, Paket B setara sekolah menengah pertama, dan Paket C setara sekolah menengah atas. Ijazahnya diakui untuk melanjutkan pendidikan maupun melamar pekerjaan.

Jadwalnya lebih longgar dibanding sekolah biasa. Pertemuan bisa berlangsung beberapa kali seminggu, sering pada malam hari atau akhir pekan, menyesuaikan peserta yang sebagian besar bekerja.

Siapa yang Mengikutinya

Peserta program ini sangat beragam. Ada remaja yang baru berhenti sekolah satu atau dua tahun lalu, ada orang dewasa berusia tiga puluhan yang butuh ijazah untuk syarat kenaikan jabatan, ada pula ibu rumah tangga yang dulu berhenti sekolah karena menikah.

Keberagaman ini jadi tantangan tersendiri bagi tutor. Dalam satu kelompok belajar bisa duduk bersama peserta dengan jarak usia dua puluh tahun, dengan kemampuan dasar dan alasan mengikuti yang berbeda-beda.

Kualitas yang Sangat Beragam

Kualitas penyelenggaraan berbeda jauh antar lembaga. Ada yang menjalankan pembelajaran serius dengan tutor yang menyiapkan materi, memeriksa tugas, dan mengadakan pertemuan sesuai jadwal. Ada juga yang praktiknya lebih dekat ke sekadar pengurusan ijazah, dengan pertemuan minim dan penilaian yang formalitas.

Perbedaan ini merusak kepercayaan terhadap program secara keseluruhan. Lulusan dari lembaga yang menjalankan proses dengan baik ikut menanggung anggapan negatif yang muncul dari praktik lembaga yang tidak serius.

Hambatan yang Dihadapi Peserta

Kendala paling umum adalah waktu. Peserta yang bekerja penuh sering kelelahan saat pertemuan, terutama yang bekerja dengan sistem giliran. Kehadiran jadi tidak teratur, dan materi yang tertinggal menumpuk.

Kendala kedua adalah rasa malu. Sebagian peserta enggan mengaku sedang mengikuti program kesetaraan, terutama yang usianya sudah cukup dewasa. Perasaan ini membuat sebagian berhenti di tengah jalan meski sebenarnya mampu menyelesaikan.

Kendala ketiga adalah bahan belajar. Modul yang tersedia sering dirancang mirip buku sekolah biasa, tanpa memperhitungkan bahwa pesertanya orang dewasa dengan pengalaman hidup dan cara belajar yang berbeda dari anak sekolah.

Nilai yang Melekat pada Program Ini

Meski punya banyak kekurangan, program kesetaraan menyelesaikan persoalan yang tidak bisa ditangani sekolah formal. Sekolah reguler dirancang untuk diikuti pada rentang usia tertentu dengan jadwal penuh. Orang yang sudah melewati usia tersebut atau tidak bisa mengikuti jadwal penuh tidak punya jalan lain.

Bagi sebagian peserta, ijazah yang didapat membuka akses ke pekerjaan dengan penghasilan lebih baik atau memungkinkan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Perubahan seperti ini berdampak pada keluarga, terutama pada keputusan menyekolahkan anak sampai tuntas.

Penutup

Pendidikan kesetaraan berada di pinggiran perhatian, tapi menangani kelompok yang justru paling membutuhkan kesempatan kedua. Perbaikan program ini menuntut pengawasan mutu yang lebih ketat terhadap lembaga penyelenggara, bahan belajar yang dirancang untuk pembelajar dewasa, dan pengakuan yang lebih setara terhadap lulusannya. Selama program ini dianggap sekadar jalur alternatif yang kualitasnya diragukan, manfaatnya bagi peserta akan selalu terbatas oleh anggapan yang melekat pada ijazahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *