Pendidikan Karakter: Kenapa Hanya Jadi Slogan?

“Pendidikan karakter” sering terdengar di seminar, pidato pejabat, atau visi misi sekolah, tetapi dalam praktiknya, tak jarang hanya berhenti di slot bet 200 slogan. Banyak institusi pendidikan sudah mencantumkannya sebagai tujuan besar, namun penerapan di lapangan sering kali terbatas pada aturan disiplin atau kegiatan seremonial, tanpa pembentukan nilai yang mendalam.

Masalahnya, pendidikan karakter seharusnya bukan sekadar proyek sesaat atau materi tambahan di jam pelajaran. Nilai-nilai seperti kejujuran, empati, tanggung jawab, dan kerja sama harus terintegrasi dalam seluruh aspek kehidupan sekolah: mulai dari metode pengajaran, interaksi guru-siswa, hingga budaya lingkungan belajar.

Jika pendidikan karakter hanya menjadi slogan, siswa akan menganggapnya tidak relevan dengan kehidupan nyata. Padahal, justru melalui pembiasaan sehari-hari, keteladanan guru, dan pembelajaran yang kontekstual, nilai-nilai ini bisa melekat kuat.

Singkatnya, pendidikan karakter tidak bisa dibangun lewat kata-kata indah saja. Ia membutuhkan komitmen, konsistensi, dan teladan nyata, agar benar-benar mencetak generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berintegritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *