|
Pembinaan Teknis Peradilan Agama se Kaltim TUADA ULDILAG : JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR Terus terang, redaksi sampai tidak bisa menulis apa-apa ketika mendengar pembinaan oleh Tuada Uldilag, Mahkamah Agung RI, Drs. H. Andi Syamsu Alam, S.H., M.H. Apa yang ditulis dalam website ini hanyalah ingatan sekilas, karena saking terkesima terhadap petuah beliau. Di usianya yang menginjak 65 tahun, beliau tidak pernah berhenti belajar. Bahkan, sebentar lagi beliau akan menyelesaikan program doktornya di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Seringkali akademikus membujuk beliau supaya menjadi dosen. Sudah berapa banyak partai politik yang “menggoda” beliau untuk menjadi pimpinan partai. Tetapi beliau tetap konsisten mengabdi sebagai penegak hukum, khususnya di lingkungan Peradilan Agama. 
Kesaksian beliau yang tidak pernah berhenti belajar adalah bentuk rasa cintanya kepada ilmu pengetahuan, khususnya dalam menjaga stabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) Peradilan Agama. Beliau memotivasi para KPA dan Pansek se Kaltim agar menggunakan sisa usia ini dengan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. “Jangan sibuk menghitung biaya yang akan dikeluarkan, karena kelak Tuhan akan mengganti”, tuturnya dengan penuh semangat. Dalam konteks peningkatan SDM di Peradilan Agama, Tuada Uldilag memetakan tiga agenda terselubung penjajahan kolonial Belanda yang harus dilawan, mengingat implikasinya sangat mengancam kelestarian SDM Peradilan Agama saat ini. Pertama, strategi pembunuhan SDM Peradilan Agama. Kolonial tidak pernah menggaji pegawai PA. Mereka bukan saja dieksploitasi secara fisik tetapi juga dihalang-halangi untuk sekolah. Kedua, pendeseminasian budaya eksklusif. Mengapa kantor PA dahulu ditempatkan di pojok masjid? itulah cara penjajah dalam menjaga jarak PA dengan masyarakat, sehingga PA terkesan tertutup. Ketiga, habisi kekuasaan dengan cara mencabut sebagian kewenangan Peradilan Agama, yakni kompetensi dalam menangani waris di Jawa dan Madura. Itulah tiga agenda penjajah yang harus diperangi, agar PA bisa bangkit dari keterpurukan, paparnya. |